Banner
edukasi
Login Member
Username:
Password :
Jajak Pendapat
Bagaimana menurut Anda tentang tampilan website ini ?
Bagus
Cukup
Kurang
  Lihat
Statistik

Total Hits :
Pengunjung :
Hari ini :
Hits hari ini :
Member Online : 2
IP : 54.162.241.40
Proxy : -
Browser : Opera Mini
:: Kontak Admin ::

ghofarindo    
Agenda
23 November 2017
M
S
S
R
K
J
S
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
1
2
3
4
5
6
7
8
9

PERSAHABATAN YANG PUTUS OLEH Anindya Gita Fakhira (7F) (0USTAKAWAN SISWA)

Tanggal : 13-11-2015 09:04, dibaca 852 kali.

PERSAHABAT YANG SEMPAT TERPUTUS

Haiii... teman-teman perkenalkan nama aku Anindya Gita Fakhira, kalian bisa memanggilku khira, tetapi orang tuaku memanggilku Nindya. Aku sekarang duduk di bangku kelas 6. Aku bersekolah di SD Muhammadiyah Dadapan. Kebetulan aku anak pertama, aku memiliki adik bernama Prayuda Gita Rizkitama. Ayah ku bernama Sigit Yuliatmaka, sedangkan ibuku bernama Andri Yuni Astuti. Aku akan bercerita tentang pengalaman ku nih... tentang persahabatan ku yang sempat kandas karena hubungan cinta-cintaan yang padahal kita belum waktunya.

Beberapa bulan yang lalu aku tidak sengaja mendengarkan curhatan kakak sepupu ku. Kakak sepupu ku biasa di panggil kak Bila sekarang dia duduk di kelas 7C, dia sedang sedih entah kenapa, akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya “kak Bila kenapa? Kok ngomong sendiri gitu kaya orang kurang waras aja.” Tanyaku, kak Bila menjawab “maksudnya orang kurang waras apa dek!!! Aku tu lagi curhat sama recorder ku, ga liat po dek?” jawab kak Bila dengan nada tinggi. Aku hanya menjawab “ ya, memang kakak kenapa kok pake curhat segala?” “ga apa-apa kok dek” jawabnya. Aku belum puas dengan jawabanya aku pun bertanya lagi “kakak ada masalah apa? Siapa tau aku bisa bantu.” Kak Bila pun mau cerita dan menceritakan masalahnya “gini lho dek, aku sekarang lagi males sekolah, risih sama kakak kelas ku. Dia itu nggangguin terus, padahal aku males liat mukannya” jawabnya dengan nada datar. Akupun bertanya lagi “boleh ku bantu ngehindar dari orang itu engga kak?” kak Bila menjawab “sangat boleh sekali, justru aku senang jikalau kamu mau bantu dek” akhirnya kak Bila memberikan nomor Whats App kakak kelas nya itu.

Karena saat itu aku tidak membawa phonsel maka aku tunda untuk nge chat kakak kelas kak Bila itu. yang katanya kelas 8E, setelah sampai rumah aku buru-buru mengambil phonsel ku. Langsung aku chat  kakak kelasnya kak Bila itu yang katanya menyebalkan. Dan ternyata nama nya kak Imam. Akhirnya terjadi obrolan ku dan kak Imam

Aku                            : “hai?”

Kak Imam                :“siapa?”

Aku                            : ”boleh kenalan engga kak?”

Kak Imam                : ”boleh aja, ini siapa?”

Aku                            : ”kenalin nama aku khira, salam kenal ya kak?”

Kak Imam                : ” dapat nomor ku dari siapa?”

Aku                            : ” dari kak Bila.”

Kak Imam                : ” lho kok kenal Bila juga? Kenal dari mana?”

Aku                              : ”aku adik sepupunya kak Bila, kakak suka ya sama kak Bila? Wow!!! BTW nama kakak siapa sih dari tadi ga ngasih tau nama kakak.?”

Kak Imam                 : “ ya ampun!! Beneran kamu adiknya Bila? Iya aku suka banget sama Bila. Kenalin nama ku Imam dek, salam kenal ya dek?”

Aku                              : “ iya kak, mau aku bantuin deket sama kak Bila engga kak?, ok kak”

Kak Imam                 : “ kurang yakin aku sama kamu dek, tapi boleh dicoba lah”

            Dan itulah inti obrolan ku dengan kak Imam, awalnya aku merasa bersalah karena di depan kak Bila aku mendukung kak Bila untuk menjauhi kak Imam, sedangkan di depan kak Imam aku mendukung kak Imam untuk dekat dengan kak Bila. Tapi lama-lama aku berpikir ini tidak masalah untuk kepentingan bersama. Lagian tidak ada yang rugi.

            Hari demi hari aku melupakan kak Bila dan kak Imam untuk sementara. Karena mereka bersekolah di sekolah favorit, dan aku ingin sekali masuk SMP tersebut. Awalnya aku ingin masuk sekolah tersebut karena sekolah itu sekolah favorit, jika aku masuk sekolah itu kan aku juga dapat dengan mudah mendekatkan kak Imam dan kak Bila.

            2 bulan berikutnya aku lulus SD dan aku pun mendaftar di SMP dimana kak Imam dan kak Bila bersekolah, betapa senang ku mengetahui jika aku di terima di SMP tersebut. Sekarang aku menduduki kelas 7F, kak Bila kelas 8C dan kak Imam kelas 9E. Hari demi hari, waktu demi waktu kulewati di kelas 7F di sekolah ini, tanpa lupa tugas ku untuk mendekatkan kak Imam dan kak Bila.

            Bulan ini bulan Agustus dimana ulang tahun kak Imam, kak Bila , dan aku sama-sama di bulan Agustus. Ulang tahun kak Bila tanggal 9. Aku berencana agar kak Imam mengungkapkan perasaannya saat ulang tahun kak Bila. Dan disitulah aku tahu sifat asli kak Imam yaitu PENGECUT TINGKAT DEWA!! Saat ulang tahun kak Bila tiba aku menyuruh untuk mengungkapkan perasaannya “kak ayo cepet tembak kak Bila, ga usah ragu-ragu” suruh ku. “ tapi aku malu dek, kalau misalnya aku ditolak gimana dek?” jawabnya dengan nada mengeluh. Dengan nada kesal aku berteriak “ DASAR PENGECUTT, COWO GA TAKUT DI TOLAK KAKAK!!!... DI TOLAK ITU URUSAN BELAKANG KAK!!!” “ terserah kamu aja dek mau bilang aku apa? Tapi aku takut, kalau tak tembak malah ditolak, kan bisa jadi dia malah jadi menjauh dari aku dek...” kata kak Imam. Aku pun menjawab “ itu resiko kak, kan setidaknya kakak udah berusaha”

            Saat ini kak Imam masih sering membuat status BBM untuk kak Bila seperti  “goodnightbil:*” dan lain-lain yang menunjukan kalau kak Imam suka pada kak Bila. Ternyata justru itu yang membuat risih kak Bila, padahal kata kak Imam itu satu-satunya cara mengucapkan nya, karena kak Bila tidak pernah merespon obrolah kak Imam. “ kak, kakak tau nggak ? kalau yang membuat kak Bila menjauh dari kakak itu karena kak Imam yang sering membuat status BBM itu, apa lagi yang sampai menunjukan kalau itu untuk kak Bila..!” ungkapku pada kak Imam. Kak Imam pun menjawab “ tapi dek itu satu-satu cara agar aku dapat mengucapkan kata – kata di statusku itu untuk Bila, jujur aku sudah tau tentang Bila menjauhiku karena hal itu. tapi... mau gimana lagi dek, aku nyerah” kata kak Imam.

            Akhir-akhir ini aku mulai berpikir percuma saja aku membantu kak Imam, karena sifat kak Imam yang mudah menyerah. Tapi akhir-akhir ini aku mulai merasa sayang sebagai seorang sahabat kepada kak Imam, tapi mungkin kak Imam tidak tau tentang ini.

            Akhirnya aku tau siapa yang di sukai kak Bila, dia bernama kak Laksa. Kak Laksa itu sendiri adalah teman satu kelas kak Imam yaitu kelas 9E. Tanpa sepengetahuan ku kak Imam ternyata telah mengungkapkan perasaannya. Namun... jawaban kak Bila menurutku sangat keterlaluan.. jawaban kak Bila adalah “imposible”. Akhirnya kak Imam mulai mundur sedikit demi sedikit. Apalagi mengetahui jika yang di sukai kak Bila ternyata kak Laksa teman dekatnya sendiri. Tapi aku selalu membujuk kak Imam untuk tidak mundur. “ kak maju terus, pantang mundur kak jangan mau kalah donk, gitu aja nyerah.” Bujukku, kak Imam pun menjawab “lagian buat apa aku berjuang? Lagian Bila lebih milih Laksa temen deket ku sendiri dibanding aku. Aku sadar siapa aku, siapa Laksa. Muka ku sama mukanya Laksa jauh dek, mending Laksa jauh lah”. Aku tidak mau kak Imam mundur, akh irnya ku jawab “ toh kak Laksa ga tau kalau kak Bila suka sama dia, jadi kemungkinan mereka barengan itu lebih minim di banding kemunkinan bersatunya kakak sama kak Bila. Please kak , percaya sama aku. Kali ini aja” “kali ini saja katamu,!! Aku sudah percaya padamu ratusan kali. Bukan hanya kali ini saja dek”. Akhirnya aku menyerah.

            Putra Ardhana, dia adalah teman sekelas ku ternyata Ardhana juga suka terhadap kak Bila. Dia justru lebih berani mengungkapkan perasaannya di banding kak Imam. Tapi karena Ardhana jauh lebih muda dibandingkan kak Bila. Akhirnya kak Bila menolak secara halus.

            Kak Imam tau tentang Ardhana, akhirnya kak Imam marah besar pada Ardhana, sekarang Ardhana menjadi paranoid jika bertemu kak Imam. Pernah suatu hari saat kelasku sedang berolah raga, Ardhana ijin ke toilet ditemani dengan A’an temannya. Karena toiletnya penuh Ardhana dan A’an terpaksa mengantri di salah satu toilet. Saat orang yang berada ditoilet itu keluar tiba-tiba Ardhana lari terbirit-birit, yang membuat A’an bingung. Ternyata orang yang keluar dari toilet tersebut adalah kak Imam. “ yaampun ra, tadi aku waktu ngantri di toilet ternyata yang berada di dalam kamar mandi itu kak Imam, sepontan aku lari sekencang-kencangnya. Sumpah ra , aku takut bangettt” ungkap Ardhana. “nahh lhoo .. Ardhana kok kamu gitu, kak Imam kan manusia bukan setann caleus..” jawab ku dengan nada menahan ketawa. Ardhana hanya mengangkat bahunya.

            Akhirnya Ardhana mengundurkan diri untuk tidak mendekati kak Bila, setelah mengetahui jikalau kak Bila ternyata suka dengan kak Laksa. Aku merasa sikap kak Imam dan Ardhana itu sama-sama PENGECUT!.

            Akhir-akhir ini aku mulai sedih, karena sikap kak Imam mulai berubah. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak menghubungi kak Imam untuk beberapa waktu terlebih dahulu. Sampai tiba-tiba aku mendengar kabar dari teman ku bernama Novi “Khira, tolongin aku! Aku lagi dapat masalah ini sama kakak kelas” dengan nada khawatir. “lho masalah apa? Sama kak siapa Nov?”. Tanya ku, “ itu masalah karena aku menjelek –jelekin kak Iman, sekarang kak Iman marah sama aku, gimana ini khirr?”, “ kak Iman? Kelas apa? Kok aku baru denger?”.. tanya ku karna aku tidak pernah mendengar nama kakak kelas yang bernama kak Iman . “ itu lho Khir.. kelas 9 E” jawab Novi. “ maksudmu kak Imam?” . tanya ku. “iya itu lah maksud ku khir” jawab Novi. Cerita Novi panjang kali lebar sama dengan luas. Yang pada intinya masalah mereka hanya masalah sepele yang di besar-besarkan oleh kak Imam.

            Kata teman kak Imam, kak Imam sengaja mencari masalah agar dapat melupakan kak Bila. Awalnya aku tak percaya karena itu bukan sifat kak Imam. Walau pun aku belum tau pasti sifat-sifat asli kak Imam. Waktu demi waktu berlalu. Aku lama tak chatan dengan kak Imam, lalu suatu hari kak Imam membuat status BBM, aku mengomentarinya. Namunn jawaban kak Imam selalu dengan nada tinggi, aku mulai muak. “sebenarnya maumu sekarang apa sih kak?” tanyaku dengan nada kesal “RAXPOPO” jawabnya. “kok pake huruf besar semua, kaya orang mbentak-mbentak gitu” tanyaku lagi. Kak Imam pun menjawab “ suka-suka aku donk, ini hidup gua jangan lu urusin hidup gua” sepontan aku membuat status dengan posisi pipi basah.

“ternyata benar kata orang , kamu pingin nglupain kak Bila dengan cara mencari masalah. Nglupain-nglupain aja jangan ganggu hidup orang donk kak. Hargai usahaku, aku tuh udah berusaha buat kamu, aku juga gabisa maksain kak Bila buat suka sama kakak. Kakak ngertiin aku donk, aku sayang kakak sebagai seorang sahabat, sampai-sampai kakak sepupu aku sempat marah karena aku mbantuin kakak deket sama kak Bila yang padahal kak Bila engga suka sama sekali dengan kakak. Hargain dikit donk kak, usaha ku. Kakak pernah diajarin ngehargai orang kan kak sama orang tua kakak?”

            Kak Imam mengomentarinya “aku saja tidak dihargai bagaimana aku bisa menghargai, toh Bila sama sekali ga ngehargain aku. Buat apa aku ngehargain orang GA GUNA tau ga dek!!??” komentar kak Imam. Setelah membaca itu pipi ku basah dan sepertinya aku menangis. Lalu aku menjawab “ kak, kakak boleh marah dengan kak Bila karena kak Bila tidak bisa menghargai kakak, tapi jangan luapin ke orang lain kak. Orang lain itu ga salah jadi jangan di salahin, tapi kalau kakak mau nyalahin seseorang, kakak boleh nyalahin aku kok kak. Disini aku ngaku aku yang salah toh aku yang janji mbantuin kakak deket sama kak Bila”.

            Tiba-tiba kak Imam menjawab “ dek ini hidup ku. Kamu ngatur-ngatur aku, amang kamu ngurusin hidup ku? Mikir dek !!!?” akupun menjawab “kakak donk yang mikir... kalau aku ga ngurusin hidup kakak buat apa aku mbantuin kakak. Aku mbantuin kakak itu biar kakak seneng kakak ga ngrasain yang namanya “tresno waranggono” yang kata orang jawa itu menyukai dari jauh.. aku tau kak itu rasanya sakit. Aku niatnya bikin kakak bahagia, hargain dikit usaha ku donk kak walau pun itu ga berhasil. Aku minta maaf kak” kak Imam menjawab “y”. Sepontan aku membuat status

“terserah kakak aja deh, aku ga ngatur hidup kakak lagi, aku tau itu hidup kakak. Jadii aku gaakan urus lagi. Maaf ya kak selama ini aku gangguin kakak. Aku cuman mau ngasih tau, besok lagi kalau ada orang mbantuin kakak apapun usahanya berhasil atau tidak pun. Tolong DIHARGAI sedikit saja kak.. agar orang yang bantu kakak itu tidak menyesal telah membantu kakak. Seperti yang aku rasakan sekarang ini kak. Udah itu aja cukup sekian ya kak  perkenalan kita, makasih sebelumnya buat semuanya”

            Setelah itu aku DC kak Imam. Aku lupa jika aku masih punya whats app milik kak Imam. Di situ kita mulai debat lagi. Akhirnya aku berkata “ya udahlah kak, terserah kakak aja. Initinya sekarang aku mau hapus nomor ku, blokir line ku, un follow instagram ku. Cukup sekian prkenalan kita, anggap saja aku tidak pernah membantu kakak, kakak tidak pernah mengenal ku... kamu ku PHK kak, kalau kakak mau tau artinya PHK itu Putus Hubungan Kawan. Cukup anggap saja kita hanya kakak kelas dan adik kelas yang sempet chatan cuman buat iseng iseng aja ya kak” setelah ku kirim pesan itu, aku mulai menangis. Aku sendiri bingung kenapa aku menangis padahal kak Imam itu bukan siapa-siapa ku. Jujur aku sadar kalau aku mulai sayang sebagai sahabat. Aku jarang kehilangan seorang sahabat. Rasanya itu kaya ada pahit-pahitnya gitu.

            Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari aku mulai bisa melupakan kak Imam MANTAN SAHABAT  itu. pedes rasanya kalau ndengerin kata MANTAN SAHABAT. Pernah denger pepatah mati satu tumbuh seribu. Sahabat pergi satu sekarang mulai punya banyak sahabat yang lebih bisa menghargai usaha sahabatnya yang aku rasa jauuh lebih baik dari kak Imam.

            Hariku mulai kembali seperti biasa tanpa ada kedatangan kak Imam, beberapa bulan kemudian aku dapat kiriman screenshotan dari kak Bila. Di situ tertulis kak Imam minta maaf pada ku, tetapi lewat kak Bila. “kak aku minta pinnya kak Imam donk kak, sekarang penting kak “ kataku pada kak Bila.” Maaf dek phonsel ku mati.” Jawab kak Bila. Aku langsung berlari kekelas 7C disana aku ingin menemui Fito, Fito adalah adik sepupunya kak Imam. “ Fito aku minta pinnya kak Imam donk! Please.. aku minta tolong banget, penting ini” kataku ke Fito. Fito pun menjawab “ iya.. iyaa.. tunggu sebentar!”. “Makasih Fito you’re is the best deh pokoknya” ucap ku pada Fito sambil berlari kedalam kelas.

            Setelah itu phonsel ku aku matikan, aku hidupkan phonsel ku saat pulang sekolah. Selama di sekolah hari itu aku tidak pernah melihat kak Imam. Rupanya kak Imam sedang sakit.

            Setelah aku sampai di rumah, kunyalakan phonsel ku, dan sudah ada chat dari kak Imam. Dan ter jadi obrolan diantara kita.

Kak Imam      : “dek? Aku minta maaf ya? Aku ngaku, aku salah.”

Aku                  : “iya, kak, aku juga minta maaf. Aku juga ngaku kalau aku salah. Aku minta maaf banget ya kak?”

Kak Imam      : “kapal dek, kita damai ya?”

Aku                  : “kapal? Apaan sih kak maksudnya? Duh gilanya kak Imam kambuh ya? Duh bahayanih.”

Kak Imam      : “hahhahaa... kapal bahasa inggrisnya apa dek?”

Aku                  : “ship kan kak?”

Kak Imam      : “betul, jadi mksd ku shiipp”

Aku                  : “ yaampun bahasanya kakak ada-ada aja -_-“

Kak Imam      : “ ya udah lah yang penting kita damai”

Aku                  : “ok, kak. Oh iya kak, katanya kakak sedang sakit ya? Sakit apa? ”

Kak Imam      : “ ga papa kok dek, hehehee... “

Aku                  : “huuu... ya udah GWS(Get Well Son- semoga cepat sembuh-) ya kak?

Kak Imam      : “ok dek, makasih”

            Dan seterusnya. Aku sangat senang karena sudah baikan sama kak Imam.

            Sudah seminggu kak Imam belum berangkat sekolah juga. Ternyata kak Imam di rawat di RS. Akhirnya aku menjenguk sendiri ke Rumah Sakit itu, betapa terkejutnya aku ternyata kak Imam mengidap penyakit leukimia atau biasa disebut kekurangan darah merah. Ternyata kak Imam akan melakukan operasi, operasi tersebut ditunda karena belum ada pendonor darah, padahal stok darah di rumah sakit tersebut sedang kosong. Aku berniat mendonor kan darah ku untuk kak Imam, tapi karna usiaku belum mencukupi jadi aku belum boleh mendonorkan darah pada kak Imam, aku hanya bisa berdo’a agar ada suka relawan yang mau mendonorkan darah pada kak Imam. Karena jika telat sebentar saja maka, nyawa kak imam tak tertolong.

            Aku sedih dengar kabar itu dari orang tua kak Imam. Aku menangis semalaman, ternyata ayah ku memperhatikan ku menangis sejak tadi “kamu kenapa nak?” tanya ayah ku. “engga papa kok yah” jawabku. Tapi sepertinya ayahku tidak percaya dengan jawaban ku “engga papa, kok sampai nangis? Sini donk nak, cerita sama ayah, siapa tau ayah bisa tolong kamu” akhirnya ku ceritakan semua masalah ku. Sukurlah ayah ku mau mendonorkan darah untuk kak Imam.

            Keesokan harinya aku menjenguk kak Imam dengan ayahku. Disana keadaan kak Imam mulai kritis. Untungnya darah ayah ku dan darah kak Imam cocok. Tetapi ayah ku bertanya pada orang tua kak Imam “kenapa tidak ada yang mendonorkan darah? Kalian kan orang tuanya. Apakah darahnya tidak cocok?” tanya ayah ku, akupun jadi ikutan bingung dan baru sadar. “ sebenarnya Imam bukan anak kandung kami, kami mengadopsi Imam sejak dia berusia 3 bulan di panti asuhan, tapi saya mohon jangan beri tau Imam tentang ini.” Jawab kedua orang tua kak Imam, yang mengejutkanku dan ayah ku.

            Menunggu operasinya lama, karena aku kecapekan aku pun ketiduran di kursi di rumah sakit pada pukul 14.00,dan di bangunkan orang tua kak Imam pada pukul 18.00 tepat setelah kak Imam selesai operasi. Aku mencari-cari ayah ku. Kata ayah kak Imam ayahku sudah pulang duluan.

            Kak Imam diantar ke ruangan rawat inap, kak Imam belum sadar juga hingga pukul 21.00. saat itu aku sudah di jemput ayah ku. Karena keesokan harinya aku bersekolah. Saat disekolah aku berniat menemui kak Bila, setelah bertemu kak Bila “kak, kakak mau ya menerima kak Imam? Kasian kak Imam kak” bujuku pada kak Bila. “no!!! Seumur hidupku aku tidak akan pernah menerima si Imam itu” jawab kak Bila, “tapi kak” saat aku sedang ingin membujuk kak Bila lagi, kak Bila memotong pembicaraan ku “sekali engga, tetep engga dekk!!”

            Tenyata kak Laksa tau tentang perasaan kak Bila pada dirinya, ia juga tau tentang kak Imam yang suka pada kak Bila, karena kak Laksa sahabat kak Imam, kak Laksa ikut membantuku membujuk kak Bila. Akhirnya kak Bila luluh,dan dengan terpaksa mau menerima kak Imam.

            Aku, kak Bila, kak Laksa pun menjenguk kak Imam. Disana kak Imam sudah sadar, tetapi ada kabar buruk yaitu operasi kak Imam GAGAL!!!  Sesampainya di sana kak Bila mengutarakan maksudnya datang “kak Imam cepat sembuh ya, aku mau kak Imam sembuh, aku mau menerima kakak, aku sayang kakak” kata kak Bila, tentu saja itu membuat kak Imam semangat. Lalu kak Imam membisiki sesuatu pada kak Laksa. Tiba-tiba kak laksa menangis. Kak Imam juga membisiki ku sesuatu “ dek makasih udah mau jadi sahabat ku. Makasih kamu udah bikin Bila nerima aku. Aku minta tolong jagain Bila jika aku tiada nanti ya dek” setelah kak Imam membisiki itu aku pun menangis, kak Imam juga berpesan pada kak Bila “ makasih dek udah nerima aku apa adanya. Walaupun sedikit dipaksa kamu nerima aku. Tapi aku puas banget sebelum aku pergi aku sempat mendengar kata kalau kamu sayang aku, itu udah lebih dari cukup untuk aku”. Orang tua kak imam, kak Laksa, kak Bila dan aku sili berganti mengecup kening kak Imam. Lalu kami berdo’a bersama agar kak Imam sembuh, tetapi tuhan berkehendak lain. Sekarang kak Imam sudah bahagia di sana.

SELAMAT JALAN KAWAN, KAU AKAN KU KENANG SELALU.

            Aku dan kak Laksa, meminta maaf jika kak Imam punya salah pada anak-anak di sekolahan juga guru-guru. Aku dan kak Laksa pun sekarang bersahabat dengan kak Bila untuk menjaga amanat kak Imam untuk menjaga kak Bila. Dan sampai sekarang pun aku tidak tau apa yang kak Imam bisikan pada kak Laksa.

 

 

                                                                        Karya : Anindya Gita Fakhira (7F)



Pengirim : Anindya Gita Fakhira (7F)
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :

Pengirim : Anggit Haps -  [anggita.t.haps@gmail.com]  Tanggal : 07/05/2016
Mana artikel cerpen2 yg lain?


   Kembali ke Atas