Banner
edukasi
Login Member
Username:
Password :
Jajak Pendapat
Bagaimana menurut Anda tentang tampilan website ini ?
Bagus
Cukup
Kurang
  Lihat
Statistik

Total Hits :
Pengunjung :
Hari ini :
Hits hari ini :
Member Online : 2
IP : 54.162.241.40
Proxy : -
Browser : Opera Mini
:: Kontak Admin ::

ghofarindo    
Agenda
23 November 2017
M
S
S
R
K
J
S
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
1
2
3
4
5
6
7
8
9

PEMBELAJARAN BERBASIS PERPUSTGAKAAN

Tanggal : 05-02-2013 11:14, dibaca 1582 kali.



PERPUSTAKAAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR

LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN (LPMP)

DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

2012

 

  1. I.     Pendahuluan
  2. Pengertian Perpustakaan

            Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistim yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka. (UU No. 43 Tahun 2007, Pasal 1).

            Perpustakan sekolah sebagai unit kerja yang melakukan kegiatan pengadaan, pengolahan dan pendayagunaan bahan pustaka untuk mendukung proses belajar (Pedoman Perpustakaan Sekolah 2008: 6).

            Perpustakaan adalah sebuah ruangan, bagian, atau sub bagian dari sebuah gedung atau gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku, biasanya menurut tata susunan tertentu serta digunakan anggota perpustakaan (Sulistya–Basuki dalam Lasha, 2007:18).

            Menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia (1990:112) "perpustakaan adalah kumpulan buku yang tersimpan di suatu tempat tertentu milik instansi tertentu".

            Dari beberapa pengertian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa definisi perpustakaan adalah:

  1. Sebagai suatu lembaga atau institusi.
  2. Fungsi mengelola atau menyimpan karya atau pengetahuan.
  3. Menyajikan informasi atau tempat sumber informasi.
  4. Dikelola oleh pustakawan atau petugas yang telah dilatih.

            Selanjutnya Mbulu dalam Sudarmono (2007:3) perpustakaan sekolah sangat diperlukan keberadaannya dengan pertimbangan bahwa:

  1. Perpustakaan sekolah merupakan sumber belajar di lingkungan sekolah.
  2. Perpustakaan sekolah merupakan salah satu komponen sistem pengajaran.
  3. Perpustakaan sekolah merupakan sumber untuk menunjang kualitas pendidikan dan pengajaran.
  4. Perpustakaan sekolah sebagai laboratorium belajar yang memungkinkan peserta didik dapat mempertajam dan memperluas kemampuan untuk membaca, menulis, berfikir, dan berkomunikasi.

Terkait dengan peran perpustakaan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan nasional bisa terlihat pada beberapa kebijakan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah secara langsung menyebutkan peran atau posisi perpustakaan merupakan hal yang penting. Adapun kebijakan tersebut adalah:

  1. UU No. 20 Tahun 2003 Bab IX  pasal 35 ayat 1 “ Standar Nasional Pendidkan terdiri atas standart isi, standar proses, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala”. Dalam penjelasan ayat 1 tersebut dikemukakan “standar sarana dan prasarana meliputi ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah,  perpustakaan, ....”.
  2. Peraturan Menteri Pendidkan Nasional Republik Indonesia No. 24 Tahun 2007 tentang Standart Sarana dan Prasarana untuk Sekolah Menengah Pertama/MTs/SMP, dan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA ) Bab II poin D.2 memuat penjelasan secara rinci tentang standar sarana dan prasarana perpustakaan sekolah.

Dari kutipan-kutipan peraturan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa perpustakaan sebagai institusi yang harus ada dalam sekolah karena perpustakaan dapat membantu kepada peserta didik atau siswa dalam memperoleh informasi, pengetahuan, pengalaman, dan ketrampilan yang diperlukan dalam kegiatan pembelajaran. Dengan kata lain bahwa perpustakaan sekolah mempunyai peran atau sumbangan yang sangat penting bagi upaya-upaya peningkatan aktivitas dan kualitas proses pembelajaran. Pada akhirnya perpustakaan sekolah akan dapat dimanfaatkan secara optimal jika kurikulum sekolah melalui guru pengajarnya atau bidang studinya  mengharuskan penggunaan perpustakaan  sebagai tempat sumber bacaan, baik sebagai sumber utama atau sebagai sumber penunjang belajar.

 

 

  1. Sumber Belajar

Sumber belajar adalah rujukan, obyek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran yang berupa media cetak dan elektronik, narasumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya. (Susanto, 2007:57).

Menurut Association for Education Communication Technology (AECT) 1977 (dalam Direktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, 2008:5) "sumber belajar adalah berbagai sumber baik itu berupa data, orang atau wujud tertentu yang dapat digunakan oleh siswa secara terkombinasi, sehingga mempermudah siswa dalam mencapai tujuan belajarnya.

Dengan demikian maka sumber belajar dapat diartikan segala tempat atau lingkungan sekitar, benda, dan orang yang mengandung informasi dapat digunakan sebagai wahana bagi peserta didik untuk melakukan proses perubahan tingkah laku.

Dari pengertian tersebut maka sumber belajar dapat dikategorikan sebagai berikut:

  1. Tempat atau lingkungan alam sekitar yaitu dimana saja seseorang dapat melakukan belajar atau proses perubahan tingkah laku maka tempat itu dapat dikategorikan sebagai tempat belajar yang berarti sumber belajar, misalnya perpustakaan, pasar, museum, sungai, gunung, tempat pembuangan sampah, dan lain sebagainya.
  2. Benda yaitu segala benda yang memungkinkan terjadinya perubahan tingkah laku bagi peserta didik, maka benda itu dapat dikategorikan sebagai sumber belajar, misalnya situs, candi, dan benda peninggalan lainnya.
  3. Orang yaitu siapa saja yang memiliki keahlian tertentu dimana peserta didik dapat belajar sesuatu, maka yang bersangkutan dapat dikategorikan sebagai sumber belajar, misalnya guru, ahli geologi, polisi, seniman, dan lain sebagainya.
  4. Bahan yaitu segala sesuatu yang dapat berupa teks tertulis, cetak, rekaman, elektronik, web, dan lain-lain yang dapat digunakan untuk belajar.
  5. Buku yaitu segala macam buku yang dapat dibaca secara mandiri oleh peserta didik dapat dikategorikan sebagai sumber belajar, misalnya buku pelajaran, buku teks, kamus, ensiklopedi, fiksi, dan lain sebagainya.
  6. Peristiwa dan fakta yang sedang terjadi, misalnya peristiwa kerusuhan, peristiwa pemilhan umum, peristiwa bencana alam, dan peristiwa lainnya yang dapat menjadikan fakta tersebut sebagai sumber belajar.

Dari keanekaragaman bentuk sumber belajar tersebut menurut Dwi Sugianto (2007:52) sumber belajar jika ditinjau dari segi kegunaanya dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu:

a. Sumber belajar yang dirancang atau sengaja dibuat untuk digunakan dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Sumber belajar yang dirancang tersebut dapat berupa buku teks, buku paket, slide, film, video, dan sebagainya untuk membantu mencapai tujuan pembelajaran tertentu.

b.Sumber belajar yang tidak dirancang atau sengaja tidak dibuat untuk membantu mencapai tujuan pembelajaran. Jenis ini banyak di sekeliling kita dan jika suatu saat kita membutuhkan, maka kita tinggal memanfaatkannya. Contoh sumber belajar jenis ini adalah tokoh masarakat. Contoh lainnya adalah suatu organisasi, toko, pasar, museum, dan sebagainya.

 

                 Jika kita mengacu pada pengertian sumber belajar yang dirancang, maka perpustakaan sebagai  salah  satu sumber belajar di sekolah adalah hal yang tepat. Dalam  kaitannya fungsi perpustakaan sebagai tempat untuk menyimpan karya dalam bentuk buku teks, buku paket, slide, film, dan video sebagai sumber belajar yang dapat disimpan dan dirawat dengan baik serta dapat diambil sewaktu-waktu dengan mudah jika dibutuhkan kembali. Dengan demikian peran perpustakaan sekolah merupakan sarana sangat penting dalam kegiatan belajar dan mengajar. Pembelajaran di sekolah tidak dapat berjalan dengan sempurna tanpa keberadaan perpustakaan sebagai penunjang, sehingga perpustakaan sekolah sangat diperlukan dalam proses pengajaran pembelajaran.

 

 

 

  1. II.            Penyelenggaraan Layanan Perpustakaan Sekolah

 

Kehadiran perpustakaan sekolah berperan besar dalam mendukung tercapainya tujuan program pendidikan (pembelajaran). Dengan berbagai koleksi yang disediakan, pemustaka dapat menggunakannya sesuai dengan minatnya. Sedang bagi guru, perpustakaan dapat membantu tersedianya sumber belajar yang dibutuhkan, sehingga penyelenggaraan pembelajaran berlangsung efektif dan efisien dalam mencapai tujuan yang ditetapkan.

Demikian penting kehadiran perpustakaan sekolah, melalui UU no 20 tahun 2003 pasal 45 ayat 1 pemerintah menetapkan, “bahwa setiap pendidikan formal dan non formal menyediakan sarana dan prasarana yang memenuhi keperluan pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual, sosial, emosional, dan kejiwaan peserta didik”. 

Penyelenggaraan perpustakaan, khususnya perpustakaan sekolah diharapkan dapat , menjadi wahana belajar peserta didik dalam mengembangkan potensinya  menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, beraklak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab dalam rangka meningkatkan kesejahteraan hidupnya.Adapun penyelenggaraannya diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia No 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan.

Peyelenggaraan perpustakaan sekolah menurut UU RI No 43 Tahun 2007 antara lain:

1)      Setiap sekolah/madrasah menyelenggarakan perpustakaan yang memenuhi standar nasional perpustakaan dengan memperhatikan Standar Nasional Pendidikan;

2)      Perpustakaan wajib memiliki koleksi buku teks pelajaran yang ditetapkan sebagai buku teks wajib pada satuan pendidikan yang bersangkutan dalam jumlah yang mencukupi untuk melayani semua peserta didik dan pendidik;

3)      Perpustakaan mengembangkan koleksi lain yang mendukung pelaksanaan kurikulum pendidikan;

4)      Perpustakaan melayani peserta didik pendidikan kesetaraan yang dilaksanakan dilingkungan satuan pendidikan yang bersangkutan;

5)      Perpustakaan sekolah/ madrasah mengembangkan layanan perpustakaan berbasis teknologi informasi dan komunikasi;

6)      Sekolah/madrasah mengalokasikan dana paling sedikit 5 % dari anggaran belanja operasional sekolah/madrasah atau belanja barang di luar belanja pegawai dan belanja modal pengembangan perpustakaan .

 

Seiring dengan pemberian otonomi sepenuhnya kepada sekolah untuk meningkatkan mutu pendidikan dan diberlakukannya KTSP, sekolah diberi keleluasaan mengatur dan memberdayakan sumber dayanya secara efektif dan efisien dalam mencapai tujuan sesuai dengan kebijakan system pendidikan nasional. Untuk meningkatkan mutu pendidikan sesuai kebijakan system pendidikan nasional, perlu didukung oleh berbagai input yang sesuai dengan kebutuhan dan karakter masing-masing sekolah. Perpustakaan sekolah sebagai salah satu input proses pendidikan, mempunyai peran yang sangat penting dalam mencapai peningkatan mutu pendidikannya. Peningkatan mutu pendidikan disamping memperhatikan pada hasil yang dicapai, juga lebih menekankan pada proses penyelenggaraan baik yang dilakukan guru mapun peserta didiknya. Sumantri (2006), bahwa “keberhasilan pendidikan di sekolah sangat tergantung pada peserta didik, petugas, sarana dan prasarana pendidikan. Salah satu sarana dan prasarana pendidikan yang dimaksud adalah perpustakaan sekolah”. Ketergantungan proses pendidikan kepada perpustakaan sekolah dalam mencapai tujuan, karena perpustakaan sekolah menyimpan, melestarikan dan menyajikan koleksi pustaka yang dapat dijadikan sebagai sumber ilmu pengetahuan yang dapat mencerdaskan pemakainya (pembaca). Sehingga perpustakaan sekolah perlu dikelola dengan baik sesuai dengan kebutuhan peserta didik maupun guru, agar secara efektif menunjang pelaksanaan kurikulum dan proses pembelajaran dalam meningkatkan mutu pendidikan. 

Perpustakaan sekolah sebagai salah satu unit pelaksanaan teknis memiliki peran yang sangat penting dalam penyelenggaraan proses pembelajaran yang dilaksanakan guru dalam mencapai tujuan yang ditetapkan. Karena  berperan penting dalam proses pembelajaran, penyelenggaraan perpustakaan sekolah dapat dikategorikan sebagai salah input yang harus diperhatikan dan disesuaikan dengan program pendidikan sekolah (visi dan misi), kebutuhan guru dan peserta didik.

Perpustakaan sebagai salah satu input program pendidikan sekolah, dalam mengembangkan harus dianalisis sesesuai dengan program pendidikan, kebutuhan guru maupun peserta didik. Pengembangan perpustakaan yang sesuai dengan kebutuhan diharapkan bermanfaat bagi guru sebagai sumber belajar dalam mengembangkan kreativitasnya yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Sedang bagi peserta didik, bermanfaat sebagai sumber belajar dalam menggali konsep-konsep berbagai mata pelajaran, menambah wawasan dan pemahaman, serta sebagai sumber inspirasi dalam mengembangkan keterampilan (kecakapan) hidup sesuai dengan potensi yang dimiliki dan tuntutan masyarakat sekitarnya.

Pengembangan koleksi merupakan kegiatan pelayanan teknis yang dilakukan perpustakaan untuk menyediakan dan memberikan layanan informasi kepada pemakai dalam mencapai tujuan. Peran pengembangan koleksi oleh perpustakaan ini antara lain:  mendukung, memperlancar, dan meningkatkan kualitas pelaksanaan program pendidikan lembaga induknya.  Pengembangan koleksi merupakan salah satu kegiatan perpustakaan yang berperan penting juga dalam mendukung keberhasilan program pendidikan keterampilan/kecakapan hidup. Karena memiliki peran penting dalam mendukung keberhasilan program pendidikan kecakapan/ keterampilan hidup, pengembangan koleksi perpustakaan harus mengandung unsur-unsur:

1)      Menumbuhkan hasrat keingintahuan peserta didik;

2)      Mengembangkan imajinasi peserta didik;

3)      Menumbuhkan  inisiatif bagi peserta didik;

4)      Mengandung segisegi kreatif;

5)      5)Menjadi sumber belajar dalam mengembangkan keterampilan intelektual dan kecakapan/kecerdasan yang dapat menumbuhkan kemandirian;

6)      Berisi unsur-unsur estetika yang cukup tinggi;

7)      Menumbuhkan budaya dan disiplin yang tinggi, dan

8)      Mengandungpesan nilai-nilai moral.

 

Carter dan Bonk (LPPI, 2000: 25) “pembinaan dan pengembangan koleksi perpustaka-an perlu memperhatikan prinrip-prinsip umum:

1). Koleksi harus dipilih dengan tepat sesuai kebutuhan pengguna tanpa membedakan ras, kebangsaan, profesi, atau lokasi pengguna;

2). Koleksi harus dikembangkan berdasarkan rencana;

3). Koleksi yang akan disediakan harus berkualitas, baik isi, penyajian dan format, kepengarangan, subyek, maupun fakta nyata”.

 

Terkait dengan penyelenggaraan pendidikan keterampilan/kecakapan hidup, pengembangan koleksi tentunya berorientasi minat pengembangan potensi peserta didik baik sebagai bekal melanjutkan studi kejenjang lebih tinggi, maupun memasuki kehidupan bermasyarakat bagi mereka yang tidak melanjutkan.

 

 

 

 

 

  1. III.    Pengembangan Perpustakaan sebagai Sumber Belajar
  2. A.    Pengembangan Perpustakaan dan Permasalahannya

Keberadaan  perpustakaan sekolah sangat dibutuhkan di lingkungan sekolah sebagai penunjang keberhasilan proses belajar mengajar. Perpustakaan sekolah juga dipengaruhi oleh jenjang sekolah, sehingga model atau taraf pembinaan perpustakaan pada tingkat sekolah tersebut perlu adanya penyesuaian.

Sebenarnya ada suatu hal yang  paling mendasar tentang perpustakaan sekolah yaitu bagaimana perpustakaan sekolah bisa ikut andil dalam menciptakan kondisi belajar di sekolah yang semakin baik dalam arti bisa membantu dalam proses berfikir siswa, dapat menumbuhkan daya imajinasi dan kreativitas siswa, dan pada ujungnya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

Terkait dengan pentingnya perpustakaan sekolah dalam suatu lembaga pendidikan sebenarnya sejak awal pemerintah sudah berupaya untuk memfasilitasi terhadap perkembangan perpustakaan. Adapun wujud perhatian tersebut nampak pada kebijakan pemerintah secara kronologi waktu seperti yang nampak  dalam perturan pemerintah yang terkutip berikut ini:

  1. Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0103/0/1981 tentang Pokok-Pokok Kebijakan Pembinaan dan Pengembangan Perpustakaan di Indonesia
  2. Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah Dasar, Menengah Pertama, dan Menengah Atas terbitan Departemen Pendidkan dan Kebudayaan, Direktorat Sarana Pendidikan, Proyek Pembakuan Sarana Pendidikan tahun 1994.
  3. UU No.20 Tahun 2003 tentang  Sisdiknas, penjelesan  pasal 35 ayat 1, tentang standar sarana dan prasarana pendidikan
  4. Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standart Nasional Pendidikan dan kemudian penjabarannya dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 24 Tahun 2007 secara rinci disebutkan standar perpustakaan sekolah terdiri dari ukuran ruang, petugas pengelola, serta ratio perbandingan koleksi buku dan jumlah buku yang harus dimiliki.

Dari kebijakan-kebijakan yang dikeluar oleh pemerintah tersebut ternyata tidak begitu banyak hasil yang diperoleh untuk memacu  pertumbuhan  perpustakaan. Memang untuk menghidupkan perpustakaan tidak sesederhana yang kita bayangkan karena masalah perpustakaan sebenarnya sangatlah kompleks. Secara umum permasalahan-permasalahan yang ada dalam perpustakaan adalah:

  1. Tingkat partisipasi guru yang masih rendah terhadap pemanfaatan pepustakaan,  terutama dalam proses pembelajaran.
  2. Dalam manajemen waktu belajar di sekolah, siswa hanya punya sedikit waktu istirahat, yakni sekitar dua kali 15menit sehingga kemungkinan waktu yang bisa digunakan untuk meminjam buku di perpustakaan relatif kecil.
  3. Jam layanan perpustakaan yang relatif pendek. Ada suatu kecenderungan perpustakaan dibuka ketika siswa sudah masuk kelas dan ditutup sebelum siswa pulang sekolah.
  4. Masih minimnya sarana dan prasarana  perpustakaan, baik yang berupa gedung maupun peralatan yang nantinya berpengaruh pada layanan pada pengguna perpustakaan.
  5. Tidak semua penentu kebijakan sekolah peduli terhadap keberadaan perpustakaan sekolah.
  6. Belum dilibatkannya Komite Sekolah dalam upaya pengembangan perpustakaan. Di samping itu, suatu hal yang langka jika orangtua/wali siswa menjadi anggota perpustakaan sekolah.
  7. Minimnya tenaga pengelola perpustakaan (pustakawan) yang terdidik dan terlatih.
  8. Koleksi buku perpustakaan yang cenderung tetap. Hal ini terjadi lantaran adanya image yang hanya mengandalkan  buku droping dari pemerintah.
  9. Dana opersional perpustakaan masih rendah dan bahkan di bawah standar ketentuan UU. No. 43 Tahun 2007,  yaitu lima persen dari RAPBS di luar belanja gaji pegawai.
  10. Penempatan lokasi perpustakaan yang kurang strategis.
  11. Rendahnya minat baca pada masyarakat sekolah.
  12. Munculnya generasi "google" dan sejenisnya sebagai pesaing berat bagi perpustakaan.

Untuk keluar dari permasalahan-permasaahan yang dihadapi perpustakaan tersebut perlu adanya tindakan yang sungguh-sungguh dan secara bersama-sama dari semua anggota atau warga sekolah, dilakukan secara terintergrasi di dalam kegiatan persekolahan. Sebenarnya pengembangan perpustakaan itu pada dasarnya  terletak pada suatu proses yang berkesinambungan, seperti yang dikemukakan oleh Darmono (2007): “...mendirikan perpustakaan itu adalah hal yang mudah, tetapi untuk menjaga kelangsungan diperlukan kerja serius dengan program yang jelas dan terarah".

 

  1. B.     Pola dan Strategi Pengembangan Perpustakaan Sekolah

Sebenarnya perpustakaan itu berkembang atau tidak tergantung pada upaya yang dilakukan oleh sekolah tersebut. Pemerintah hanyalah sebagai penentu kebijakan dan tentunya dalam hal ini peran pemerintah lebih terfokus pada starter, sebagai motivator, atau sebagai pengawas dari penyelenggara kebijakan tersebut. Untuk mengembangkan perpustakaan sekolah agar menjadi perpustakaan yang sesuai dengan kebutuhan masarakat sekolah perlu adanya stategi dan pola pengembangannya. Pola dan strategi pengembangan perpustakaan sebagai berikut:

  1. Status Organisasi dan Tata Laksana.

Secara organisasi bahwa perpustakaan sekolah memiliki status yang sama dengan kelengkapan organisasi sekolah yang lain misalnya: laboratorium IPA, laboratorium Bahasa, dan ruang Ketrampilan sehingga pengelola Perpustakaan Sekolah juga mempertanggungjawabkan kinerjanya secara langsung kepada sekolah. Pada sisi lain Komite Sekolah dalam struktur organisasi memiliki status terbatas sampai pada garis bersifat konsultasi dengan Kepala Sekolah. Garis konsultasi tersebut alangkah baiknya jika dikembangkan menjadi garis koordinasi, sebab pada dasarnya Komite Sekolah adalah wakil dari orangtua/wali murid.  Orangtua/wali siswa (Komite Sekolah)  sebagai mitra sekolah yang sekaligus sering diposisikan sebagi penyandang dana juga diberikan hak untuk menerima laporan atau bentuk pertanggungjawaban dari kegiatan Perpustakaan Sekolah. Laporan yang disampaikan kepada orangtua/wali siswa (Komite Sekolah) tidak hanya berupa laporan keuangan, akan tetapi juga dalam bentuk  layanan yang diberikan oleh Perpustakaan Sekolah kepada penggunanya secara memuaskan. Ukuran mutu layanan yang diberikan kepada siswa apabila jasa yang diberikan kepada pelanggan dapat melebihi harapan pelanggan  (Komariyah, 2005:11).  

  1. Tenaga Perpustakaan.

Kemampuan sumberdaya manusia pengelola perpustakaan sangat berpengaruh terhadap peran, fungsi, dan tugas perpustakaan sebagai pusat kegiatan pembelajaran serta pusat layanan informasi, penelitian, dan rekreasi bagi guru dan siswa. Mengacu dari fungsi perpustakaan sebagai sentral pembelajaran di sekolah maka pustakawan atau pemustaka bukanlah orang yang melayani guru tetapi sebagai mitra kerja guru. Sehingga seorang pustakawan atau pemustaka setidaknya harus memiliki dua persyaratan yang mendasar agar pelayanan perpustakaan dapat diselenggarakan dengan baik. Berikut ini dua persyaratan yang harus dipenuhi:

  1. Persyaratan mental.
  2. Persaratan pengetahuan.
  3. Layanan Perpustakaan.

Perpustakaan harus dikembangkan dengan menggunakan falsafaf layanan prima, dalam arti petugas perpustakaan pada prinsipnya harus terbudaya sikap melayani, dan bukan dilayani. Sikap melayani itu bukan berarti petugas perpustakaan sebagai pelayan dalam arti ansih, akan tetapi layanan yang diberikan lebih bersifat memandu dalam  penelusuran informasi. Untuk menjadi petugas perpustakaan yang bisa melayani sesuai dengan harapan pelanggan setidaknya petugas perpustakaan harus mengetahui dan memahami kekuatan, sumber, dan posisi serta tata susunan berbagai koleksi bahan pustaka yang ada di perpustakaan. Dengan demikian komunikasi antara petugas perpustakaan dengan pengguna perpustakaan akan bisa bertemu dalam kepentingan yang sama yaitu perpustakaan.

  1. Promosi.

Ada berbagai macam cara yang bisa dilakukan untuk menunjukkan atau mempromosikan perpustakaan, di antaranya adalah pendidikan penggunaan perpustakaan ketika masa orientasi siswa baru, pameran buku baru, mengadakan berbagai lomba yang mengarah pada menumbuhkan minat baca pada anak misalnya lomba resensi buku, membuat ketrampilan yang sumbernya mengambil dari buku yang ada di perpustakaan.

  1. Peralatan dan perlengkapan.

Peralatan dan perlengkapan yang ada di perpustakaan perlu adanya penyesuaian agar perpustakaan bisa berjalan dengan baik. Pengembangan layanan perpustakan berbasis tekhnologi informatika harus mengarah pada perbaikan dan peningkatan mutu jasa layanan bagi pengguna  perpustakaan. Otomatisasi layanan perpustakaan sudah harus dipikirkan dan bahkan  perlu segera dirintis, sebab kemajuan dalam bidang tekhnologi informasi yang sekarang sudah berkembang sangat cepat ini merupakan suatu tantangan tersendiri bagi upaya pengembangan perpustakaan sekolah. Kemudahan pencarian informasi melalui dunia maya (internet) harus menjadi pemicu agar Perpustakaan Sekolah dapat menyediakan fasilitas-fasilitas yang lebih baik. Jika tidak, maka akan membuka peluang siswa berpaling dari perpustakaan.

  1. Pembiayaan.

Setinggi apapun keinginan untuk mengembangkan perpustakaan jika tidak didukung oleh pendanaan yang kuat rasanya sulit untuk diwujudkan. Ada berbagai sumber pendanaan yang bisa dikelola untuk pengembangan perpustakaan yaitu dana  yang bersifat rutin ataupun yang bersifat insidental.

  1. Koleksi bahan pustaka.

Penambahan buku hendaknya selalu diorientasikan menambah atau memperluas referensi dari matapelajaran yang diberikan di sekolah. Ada beberapa upaya yang telah dilakukan dalam upaya penambahan koleksi yaitu dengan cara membeli, hadiah dari penerbit, maupun menerima titipan dari Badan Perpustakaan Kabupaten. Untuk mendapatkan buku yang berkualitas sesuai standar bahan pustaka sekolah, sebaiknya digunakan alat bantu yang berupa katalog penerbit dan melihat buku yang bernotasi dengan  rekomendasi dari Departemen Pendidikan Nasional.

  1. Gedung dan ruang perpustakaan.

Gedung perpustakaan setidaknya bisa menunjang kegiatan KBM. Mengenai gedung perpustakaan seyogyanya tetap memperhatikan fungsi penyimpanan, aktivitas layanan, tempat kerja, di samping juga memperhatikan lokasi, tata ruang, dan dekorasinya.

  1. Jaringan kerjasama antar perpustakaan.

Kegiatan ini bisa dikatakan masih jarang dilakukan sebab ada berbagai kendala yang menyangkut jarak, mobilitas buku, jumlah koleksi, dan juga tenaga operasional. Adapun bentuk kerjasama yang bisa dilakukan adalah Kartu Tanda Anggota Perpustakaan Bersama dan pemberian layanan pinjaman dengan sistim online, tukar menukar buku koleksi antar perpustakaan, pelatihan tenaga pengelola perpustakaan, dan membentuk forum guru pembina perpustakaan.

  1. Pembinaan minat baca.

Minat baca merupakan hal yang paling mendasar karena sebaik apapun perpustakaan yang ada di suatu sekolah jika minat baca siswanya rendah maka perpustakaan sekolah tersebut akan sia-sia atau bahkan menimbulkan pemborosan waktu, tenaga, pikiran, biaya, tempat, maupun energi. Sebagai gambaran, indeks minat baca masyarakat Indonesia jika dibandingkan dengan beberapa negara tetangga seperti yang  dikemukakan Vincent (dalam Rimbarawa 2006:285) untuk siswa kelas enam SD skor minat bacanya 51,7 berada pada urutan paling akhir setelah Filipina (52,6), Thailand (65,1), Singapura (74,0), dan Hongkong (75,5).

Dengan kondisi minat baca yang rendah tersebut sebenarnya merupakan permasalahan dan tantangan tersendiri, terutama bagi perpustakaan di sekolah. Ada beberapa kiat yang bisa dilakukan untuk meningkatkan minat baca siswa di antaranya; mengadakan berbagai macam lomba atau kegiatan yang mengarah pada pemanfaatan buku di perpustakaan serta merubah kultur belajar dengan pola mendengar cerita menjadi kultur belajar dengan pola baca.

  1. Penjadwalan guru untuk memberikan tugas kepada siswanya atau melaksanakan KBM di perpustakaan minimal satu kali dalam satu semester. Pola ini terkandung maksud untuk memotivasi siswa menggunakan perpustakaan sebagai pusat layanan informasi atau pusat belajar. Melalui penjadwalan seperti itu guru bisa mengadakan komunikasi dengan petugas perpustakaan untuk menyediakan kebutuhan bahan ajar yang diperlukan, baik berupa buku penunjang atau bahan yang lain. Dengan demikian harapannya fungsi perpustakaan akan lebih mengena sesui dengan kebutuhan siswa.
  2. Pembentukan relawan perpustakaan.

Relawan perpustakaan direkrut dari siswa. Dengan dilibatkannya siswa sebagai relawan perpustakan ada berbagai macam dimensi keuntungan bagi siswa. Siswa akan memperoleh tambahan pengetahuan dan ketrampilan dalam mengelola serta merawat bahan pustaka. Di samping itu dapat pula untuk mengefektifkan komunikasi siswa dengan perpustakaan karena dalam hal layanan pelanggan, siswa adalah pelanggan primer sehingga dengan hal tersebut dapat  segera terpenuhi kebutuhannya.

  1. Membuat daftar tajuk subyek mata pelajaran.

Kegiatan ini dicoba untuk dikembangkan dan diterapkan, mengingat perubahan kurikulum akan diikuti pula dengan pergantian buku acuan atau buku penunjang mata pelajaran, karena runtutan materi pelajaran berubah walaupun isi dari materi pokoknya tetap. Agar buku pelajaran yang lama masih terpakai maka perlu dibuatkan daftar tajuk subjek materi pelajaran. Pengelompokan istilah yang ada pada mata pelajaran akan lebih memudahkan dalam proses pengerjaannya, misal pada mata pelajaran Geografi penggunaan istilah pada materi pembelajaran adalah: Lithosfer, Hidrosfer, Atmosfer, dan lain sebagainya.

 



Pengirim :
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :


   Kembali ke Atas